Pages

Rabu, 17 Oktober 2012

Catatan Revan Rajasinga (Huru Hara Padang) Sirkus Neraka : Melibas Andalas 2012

RAJASINGA dan JERUJI menyinggahi dua kota Medan (15 September 2012) dan Rantau Prapat (16 September 2012) di Sumatera Utara sebagai pembuka rangkaian tur bertajuk "Sirkus Neraka: Melibas Andalas 2012", namun siapa menyangka insiden terjadi di kota ketiga yaitu Padang (19 September 2012. Kekacauan mewarnai gig di Padang hingga menyebabkan dua personil RAJASINGA yaitu Revan (drums) dan Moorg (bass/vokal) cedera. Hasil kontak ((AUMAN)) dengan Revan menyatakan RAJASINGA kemungkinan besar tak bisa melanjutkan tur. Rombongan pada saat berita ini naik sedang dalam perjalanan menuju Pekanbaru untuk menenangkan kondisi yang sangat traumatis, keputusan lanjutan akan JERUJI dan jadwal kota lain di Sumatera tengah dalam pembahasan. Publikasi berita ini pun sebagai bentuk solidaritas untuk meluruskan berita yang simpang siur dan hambatan koneksi internet dari kawan-kawan RAJASINGA dan JERUJI di perjalanan menuju Pekanbaru.
Berikut surat elektronik yang dikirimkan Revan Bramadika -drummer RAJASINGA- kepada ((AUMAN)) akan insiden yang terjadi di Padang:

Untuk meluruskan berita tentang musibah yang menimpa kami semalam (19 sept 2012) di Padang,  saya Revan, akan menjelaskan apa yang terjadi semalam.
Ada kesalahpahaman yang terjadi, antara kami dan segerombolan orang yang mengaku Street Punk kota Padang. Pada saat Rajasinga perform di acara, Indra Morrg (Bassist/Vocalist) sempat berucap “Padang, anjing kalian keren sekali...”. Perkataan yang ekspresif ini, dianggap isu rasis oleh oknum Street Punk tadi. Mereka menganggap kami berucap Padang = Anjing. Setelah lagu terakhir kami mainkan, salah seorang dari mereka mulai menyerang kami, dan sempat terjadi dorong-dorongan. Saya langsung menarik Morrg dan Biman berlindung di back stage. Akan tetapi, kami kalah jumlah dan back stage sudah dikepung. Saat itu ada kami Rajasinga bertiga, Badrun (photographer), beberapa teman, dan dua orang panitia.  Ketika pintu didobrak, kami berusaha kabur lewat pintu belakang. Tapi sial, saya dan Morrg tidak berhasil lolos.
Kami terpojok, saat salah seorang dari mereka melempari kami berdua dengan piring, gelas, dan botol berbahan kaca. Salah satu dari orang yang menyerang kami, terluka di alis sebelah kiri karena terkena pantulan pecahan kaca yang dilempar temannya sendiri dan terjatuh dengan kepala luka berdarah. Saya dan Morrgan sempat berteriak minta pertolongan untuk korban salah lempar itu. Hingga salah seorang dari mereka memapah korban keluar. Sisa gerombolan yang masih diluar lokasi, melihat temannya terluka, dan mengira itu akibat perbuatan kami, tanpa basabasi mulai menyerbu kami masuk ke back stage dan melempari kami dengan benda-benda kaca, kursi, balok, batu bata, apapun yang mereka bisa temukan disana. Kami terpojok dan cuma bisa berlindung dibawah kursi, sambil menghindari lemparan dan pukulan yang mereka layangkan ke kami.
Tidak berhenti disitu, kami berdua ditarik keluar, dan lanjut dipukuli di belakang venue. Beruntungnya, belakang venue itu adalah wilayah asrama tentara, salah seorang perwira disana melihat kami dipukuli, dan langsung menyelamatkan kami berdua. Saya dan Morrg diamankan, sampai salah satu panitia menjemput kami, dan membawa ke klinik terdekat untuk dirawat.
Sementara kami di klinik, teman-teman Jeruji dan kru Sirkus Neraka, mengamankan tempat dan barang-barang kami, dibawa ke rumah seorang teman untuk diamankan. Syukur Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
Saya menderita luka dalam di lutut kanan dengan lima jahitan, memar disekujur tubuh, dan luka gores dilengan dan kaki akibat pecahan kaca yang dilemparkan ke kami. Indra Morrg mengalami hal yang lebih kurang sama dengan saya, dengan tambahan dua jahitan di kepala depan, jari kelingking kiri patah, dan siku lengan kiri terdislokasi.
Dengan berat hati, dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan, saya mewakili Rajasinga  terpaksa harus membatalkan sisa rangkaian Tour Sirkus Neraka “Melibas Andalas 2012” di Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bandar Lampung. Sampai saat menulis berita ini, Jeruji masih berdiskusi mempertimbangkan untuk tetap meneruskan tour ini atau tidak, mengingat shock dan trauma yang kami alami.  Mohon maaf kepada teman-teman panitia yang sudah mencurahkan seluruh usaha untuk mendukung Tour ini. Kami sangat menghargai segala effort yang sudah kalian lakukan.
Saya pribadi, sangat prihatin dengan kejadian ini. Ironis sekali. Sebagai salah seorang putra Minang yang berkunjung ke kampung halaman untuk bersilaturahmi, malah mendapatkan kemalangan seperti ini. Saya akhirnya mengerti arti kata “keji” setelah mengalami peristiwa semalam... Sungguh diluar apa yang pernah kami bayangkan. Saya lengah tidak memperhitungkan oknum-oknum yang ternyata kurang menyukai Rajasinga.
Kami bukan petarung, kami tidak suka buat onar, kami suka senang, bukan rusuh... kami cuma mau main MUSIK... Apakah begitu susahnya Rajasinga diterima oleh oknum yang menyerang kami?!
Sebagai informasi, gerombolan street punk yang menyerang kami, dari awal acara mulai, memang sudah bertindak vandalis. Mulai dari menjebol pintu tiket, menakuti penonton lain, dan memaksa untuk ikut main di acara ini. Sedari awal kami mulai menaiki panggung, kami diteriaki “artis” “komersil” beberapa kali. Sampai akhirnya, ucapan ekspresi dari mulut Morrg menjadi pemicu yang tidak masuk akal.
Apa yang terjadi di skena musik yang sudah kita bangun selama ini? Apakah kita akan tinggal diam dengan tindakan premanisme yang terjadi di dalam lingkungan musik yang yang kita cintai?  Apakah akan ada korban-korban berjatuhan dari saudara kita berikutnya? Apakah benar kita semua “bersaudara”?
Masalah ini adalah masalah yang harus kita pecahkan bersama... Semua jenis bibit kehancuran seperti ini harus segera dibasmi... kami ini cuma korban... cukup lah...
Saat ini, kami sudah dalam posisi aman, sementara oknum pembuat masalah sedang dilacak oleh teman-teman komunitas di kota Padang. Itu tugas penting buat mereka. Dan mereka siap bertanggung jawab...
Bandung, kami pulang...
+revan+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar